Memupuk Keberanian, Merangkai Cerita: Perjalanan Menuju Lomba Bertutur 2026
Dunia anak-anak adalah dunia imajinasi yang tak terbatas. Sebagai pendidik, saya selalu percaya bahwa setiap anak memiliki "permata" unik di dalam dirinya yang hanya perlu diasah agar bersinar. Bulan Maret ini, sebuah petualangan baru dimulai ketika kami memutuskan untuk mengirimkan delegasi terbaik dalam Lomba Bertutur Kabupaten Tegal 2026.
Perjalanan ini bermula di tengah syahdunya suasana Ramadan. Saat itu, Kepala Madrasah H. Sofihudin S. Pd. I, M. Pd.I memberikan amanah yang menantang: mencari dan membimbing siswa berbakat untuk mewakili madrasah tercinta. Tanpa menunggu lama, saya segera bergerak menyisir bibit-bibit yang tidak hanya memiliki kemampuan, tapi juga kemauan untuk berproses.
Ternyata, persiapan ini bukan sekadar melatih vokal atau intonasi. Ini adalah sebuah perjalanan administratif dan emosional yang luar biasa untuk dikenang.
Langkah Awal: Lebih dari Sekadar Kartu Anggota
Semuanya dimulai pada pertengahan Maret. Saya masih ingat betapa riuhnya suasana saat mulai mendata calon peserta. Syarat pendaftaran ternyata cukup detail; selain biodata, anak-anak wajib terdaftar sebagai anggota perpustakaan daerah.
Ada binar bahagia saat melihat nama Syafiya Rahmati Nabhani, Moh. Hilal Al Fadihyl, dan Nusyaiba Almira Razzaq resmi memegang kartu anggota Perpustakaan Kabupaten Tegal. Bagi mereka, itu bukan sekadar kartu plastik, melainkan "tiket emas" untuk menjelajahi samudera ilmu yang lebih luas.
Seni Bernegosiasi dengan Aturan
Tantangan pertama muncul terkait pembatasan kuota. Dari pihak Kemenag, jatah peserta sangat terbatas—hanya 14 siswa untuk seluruh madrasah. Sebagai langkah antisipasi, saya sempat mendaftarkan tiga nama. Namun pada akhirnya, kami harus bersikap realistis dan bijak untuk mengirimkan dua anak terbaik, demi memberikan ruang dan kesempatan bagi madrasah lain.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Karena adanya kuota kosong dari sekolah lain, ketiga siswa kami akhirnya tetap bisa naik panggung. Berbagi ruang ternyata tidak membuat kita kehilangan peluang, justru menambah keberkahan.
Tantangan berikutnya hadir dari naskah cerita. Materi yang ditentukan panitia tergolong sangat panjang untuk kapasitas anak-anak. Saya pun mencoba berkonsultasi, "Bolehkah teks cerita dimodifikasi?"
Jawaban panitia sangat melegakan: "Yang penting tidak mengubah inti cerita."
Kalimat itu menjadi angin segar bagi kreativitas kami. Saya mulai membedah naskah, menyederhanakan kalimat, dan menyesuaikan gaya bahasa agar lebih "bernyawa" dengan karakter anak-anak, tanpa melunturkan pesan moral di dalamnya.
Tiga Fase Menuju Panggung
Untuk membentuk penampilan yang matang, saya menyusun jadwal latihan intensif yang terbagi dalam tiga fase krusial:
Minggu Pertama (Fokus hafalan dan Intonasi):
Anak-anak harus paham betul makna dari setiap kata yang mereka ucapkan agar pesan cerita sampai ke hati pendengar.
Minggu Kedua (Fokus Gestur & Ekspresi): Di tahap ini, imajinasi mereka diuji. Bagaimana menghidupkan tokoh hanya melalui gerak tubuh dan mimik wajah.
Minggu Ketiga (Finishing & Timing): Kami mulai berlatih dengan bantuan stopwatch. Presisi waktu menjadi kunci agar penampilan mereka tetap memukau dalam durasi yang ditentuk
Merawat Kepercayaan Diri
Hingga akhirnya, tanggal 1 April kemarin, undangan Technical Meeting mendarat di ponsel saya. Rasanya campur aduk—ada bangga, sedikit debar di dada, namun terselip optimisme yang besar.
Bagi saya pribadi, menang atau kalah adalah urusan nanti. Melihat Syafiya, Hilal, dan Nusyaiba berani berdiri tegak, menatap khalayak, dan bercerita dengan penuh percaya diri adalah kemenangan yang sesungguhnya. Di sini, kami tidak hanya menyiapkan peserta lomba; kami sedang merawat rasa percaya diri para calon pemimpin masa depan.
Hingga pada H-1, tepat pukul 09.13 WIB, sebuah notifikasi muncul di layar ponsel saya. Rupanya, itu adalah pesan dari panitia yang mengirimkan "Surat Lomba Bertutur Fix.
Diiringi dengan kalimat santun, "Assalamualaikum izin share undangan Lomba Bertutur nggih, maturnuwun," pesan tersebut seolah menjadi gong pembuka bahwa perjuangan yang sesungguhnya akan segera dimulai besok pagi. " Bismillah, siap untuk hari esok!"
Mohon doanya ya, teman-teman pembaca, semoga anak-anak kami bisa memberikan yang terbaik di ajang Lomba Bertutur tahun ini!

Komentar
Posting Komentar