Resume Pertemuan ke-18 KBMN PGRI Angkatan 32

Hari/Tanggal: Senin, 3 Maret 2025

Tema: Kaidah Pantun

Narasumber: Miftahun Hadi, S.Pd.

Moderator: Lely Suryani, S.Pd.SD.

Waktu: 14.00 - 16.00 WIB

Platform: Grup WA KBMN 32

 

Bait Pantun Pembuka


Minyak zaitun irisan pepaya,

Mata menatap lanjar jamu.

Banyak pantun warisan budaya,

Kita tetap belajar ilmu.

 

Beli bukaan simpan di gelas,

Ramah kepak bertahta santun.

Pertemuan kedelapan belas,

Bersama Pak Miftah, raja pantun.

 

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillahirrahmanirrahim.

Apa kabar sahabat literasi seluruh Indonesia? Semoga kita semua sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

 

Bertemu kembali di resume pertemuan ke-18 Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Angkatan 32.

 

Bait Pantun Penyambutan Narasumber

 

Masak laksa pakai minyak zaitun,

Minyak jelatah padat lemak.

Saat puasa belajar pantun,

Bersama Pak Miftah dari Demak.

 

Duduk di lantai beralas kelasa,

Sambil meramu bumbu kluban.

Walau santai di bulan puasa,

Mencari ilmu tetap kewajiban*.

 

Profil Narasumber:

Miftahun Hadi, S.Pd., pengajar di SDN Raji Demak dan alumni KBMN Angkatan 17.

 

Pertemuan diawali dengan diskusi singkat mengenai pemahaman peserta tentang pantun. Narasumber kemudian memaparkan beberapa definisi pantun menurut para ahli:

 

- Etimologi: Berbagai sumber menelusuri asal kata "pantun" dari akar kata "tun" yang berarti "baris," "deret," atau berkaitan dengan kesantunan dan tata krama (Hussain, 2019; Mu’jizah, 2019; Kamus Bahasa Melayu Nusantara, 2003). Beberapa sumber juga mengaitkannya dengan kata-kata dalam bahasa lain yang memiliki arti serupa, seperti "tonton" (Tagalog) dan "tuntun" (Jawa Kuno) yang berarti teratur atau pemimpin (Hussain, 2019). Renward Branstetter (dalam Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) menghubungkannya dengan kata "pan" (sopan) dan "tun" (santun atau pepatah).

 

- Definisi: Pantun adalah puisi lama yang terdiri dari empat baris (rangkap), dengan dua baris pertama sebagai sampiran (pembayang) dan dua baris terakhir sebagai isi (maksud) (Yunos, 1966; Bakar, 2020). Pantun juga seringkali berfungsi sebagai sindiran atau perumpamaan (Kamus Bahasa Melayu Nusantara, 2003; Hussain, 2019).

 

- Konteks Budaya: Pantun merupakan bagian integral dari kesusastraan tradisional Indonesia, seringkali menjadi elemen penting dalam pertunjukan seni tradisional seperti randai di Minangkabau (Sumatera Barat). Keberadaannya yang begitu luas juga terlihat dari variasi sebutan di berbagai daerah, seperti ende-ende (Tapanuli), paparikan (Sunda), dan parikan (Jawa) (Suseno, 2006). Pantun telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional (2014) dan oleh UNESCO (2020).

 

- Manfaat dan Ciri-ciri Pantun: Pantun melatih kemampuan berpikir, kecepatan berpikir, dan memainkan kata. Secara umum, pantun berfungsi sebagai alat penguat penyampaian pesan. Ciri-cirinya meliputi: empat baris, 8-12 suku kata per baris, sajak a-b-a-b, sampiran (baris 1-2), dan isi (baris 3-4). Disarankan untuk menggunakan 4-5 kata per baris untuk keindahan pantun.

 

- Cara Membuat Pantun: Memahami kaidah dan ciri pantun serta penguasaan perbendaharaan kata merupakan kunci untuk membuat pantun dengan mudah dan cepat

 

Bait Pantun Penutup

 

Bijak bestari sikapnya santun,

Ketika kehendak sesuai norma.

Mari lestarikan budaya berpantun,

Agar semarak budaya literasi kita.

 

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Adiwerna, 05 Maret 2025

 Retno Susiyanti 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Latihan ke Panggung Juara: Catatan Perjalanan Lomba Bertutur MIN 3 Tegal

Resume Pertemuan ke-2 Menulis Resume di Blog

Memupuk Keberanian, Merangkai Cerita: Perjalanan Menuju Lomba Bertutur 2026