Resume pertemuan ke -7 KBMN PGRI angkatan ke 32
Resume pertemuan ke -7 KBMN PGRI gelombang 32
Hari / tanggal : Rabu, 5 Febriari 2025
Tema : *Mengatasi Writer's Block*
Narasumber : Dita Widya Utami,S.Pd, Gr.
Moderator : Gina Dwi Septiani, S.Pd., M.Pd
Pukul : 19.00- 21.00 Wib
Room : Grup Wa KBMN 32
Bismillahirrahmanirrahim
Apa kabarnya sahabat literasi di seluruh Indonesia ?
Semoga kita semua sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Dan tak lupa sholawat serta salam kepada selalu tercurhkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW.
Bertemu kembali kali ini di resume pertemuan ke -7 Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI angkatan ke 32.
Seperti halnya langit, kadang bersinar cerah, tapi acapkali pula tiba-tiba gelap tertutup awan. Begitu pula perjalanan kita dalam berkarya dan menulis.
Mulai dari masalah kesibukan, mood swing, hingga kendala lainnya yang membuat kita stuck dan jalan di tempat.Nah sobat, saat sedang menulis, pernahkah Anda mengalami hal seperti ini. Awas jangan-jangan Anda telah tertular virus menular. Yaitu *WRITERS BLOCK*
Mau tahu virus apa itu, cara menanggulanginya, ciri-cirinya, dan trik untuk menghindarinya. Sebelum menyimak materi kita perlu mengenal lebih dekat narasumber kita kali ini.
Dita Widya Utami adalah seorang guru yang menyelesaikan pendidikan SD dan SMP nya di Subang, menyelesaikan SMA di Purwakarta. Melanjutkan pendidikan kimia dan Program PPG Daljab A3 UNM pada tahun 2020.
Selain mengajar IPA di SMPN 1 Cipendeuy Subang juga sebagai ketua MGMP IPA komisariat Kalijati, juga sebagai penggerak komunitas Guru Penggerak di Subang. Beliau juga alumni KBMN PGRI angkatan ke-7.
Pada awal pertemuan narasumber langsung memberi tantangan kepada semua peserta untuk menulis cepat sesuai tema yang ditentukan serta waktu yang terbatas.
Setelah beberapa peserta mengirim tulisannya. Beliau menghadirkan pertanyaan :Apa sih hubungannya praktik menulis tadi dengan tema kita?
Jika kita menulis tentang bidang yang kita kuasai, familiar, lagi viral maka akan lebih mudah bagi kita untuk menulisnya.
Disadari atau tidak, akan mudah menulis bagi kita saat temanya memiliki keterkaitan dengan keseharian kita. Dengan hal-hal yang kita minati. Dengan apa yang pernah kita dengar, lihat atau rasakan.
Di luar itu, kita mungkin akan kesulitan untuk memulai.Perlu usaha yg lebih untuk bisa menyelesaikan tulisannya.
Menulis sejatinya adalah kata kerja. Maka harus "aktif". Tak bisa kita bercita-cita jadi penulis, namun tidak menulis. Perlu upaya perlu berlatih.
Ciri -ciri writer's block diantaranya :
1. Sulit untuk fokus
2. Sering berubah fikiran karena ide yang terus berkembang
3. Merasa kurang bersemangat
4. Terlalu sering mengoreksi tulisan
5. Khawatir tidak sesuai harapan pembaca.
6. Terlalu banyak tekanan baik dari dalam maupun dari luar diri penulis.
Umumnya *writer's block* dimaknai sebagai kondisi di mana seorang penulis mengalami kesulitan untuk memulai atau melanjutkan proses menulis.
*Dari kacamata psikologi,* dalam sebuah studi dari Yale psychologists pada 1970 dan 80-an yang ditinjau kembali oleh New Yorker, writer’s block merupakan hal konkrit dan dapat diatasi penulis.
Dua orang psikolog bernama Jerome Singer dan Michael Barrios melakukan penelitian mengenai fenomena writer’s block ini terhadap para penulis berlatar belakang yang berbeda, mulai dari penyair puisi hingga screen writer.
Mereka menemukan penulis yang mengalami writer’s block _sedang merasa tidak bahagia._ Agar lebih mudah memahaminya, kedua psikolog tersebut membagi empat dasar penyebab ketidakbahagiaan para penulis yang menjadi peserta studi mereka. (Deepublish).
Keempat hal tersebut adalah:
1. Kecemasan
2. Pemarah
3. Apatis
4. Memiliki masalah dengan orang lain
Simpelnya, Writer Block ini memiliki keterkaitan dengan kondisi psikoligis seseorang.
*Menurut Pandangan Umum*
Penulis dan psikolog Susan Reynolds menyatakan bahwa writer’s block hanyalah sebuah mitos dan bukan kondisi psikologis sama sekali.
Walau begitu, Reynolds mengakui bahwa menulis adalah proses mental yang menantang.
Apakah writer’s block merupakan masalah psikologis yang nyata atau hanya istilah yang diciptakan saat penulis menghadapi tantangan, ada banyak alasan penyebab masalah ini, misalnya:
1. Merasa takut (seperti takut bahwa karyanya tidak lebih baik dari orang lain)
2. Perfeksionis
3. Tekanan eksternal (contoh tuntutan untuk membuat tulisan yang lebih baik.
Menurut Dee Lestari, kalau Writers Block ini ada dua kondisi:
1. Kondisi akut seperti saat kita berjalan lalu tersandung batu kecil. Terkadang saat menulis, ada "masalah kecil" yang menghambat proses kreatif kita. Namun, hal ini masih bs diatasi dengan istirahat sejenak atau mengurai ide-ide.
2. Kondisi kronis (besar) dimana kita benar-benar terhalang oleh hal-hal besar saat menulis sehingga seperti tidak ada jalan keluar.
Lalu, bagaimana cara mengatasi atau menghindarinya?
Diantaranya:
1. Istirahat sejenak
2. Cari suasana baru
3. Meminimkan distraksi hp dan tv saat menulis
4. Membaca karya orang lain
5. Melakukan diskusi
6. Berolahraga
7. Melakukan aktivitas selain menulis
8. Mencoba menulis bebas.
Jika sudah tahu apa obatnya dari Writers block ayo segera menulis kembali.Sampaikan semua ide yang ada di kepala menjadi sebuah tulisan yang dapat bermanfaat bagi orang lain.
Selamat menulis.
Adiwernal, 04 Februari 2025
Retno Susiyanti

Komentar
Posting Komentar