Bahagia Itu Sederhana: Piknik Singkat ke Muara Reja
Minggu, 19 April 2026
Semua bermula pada sebuah Sabtu malam yang tenang. Anakku, Diah, tiba-tiba mendekat dan berbisik manja kepada Abahnya, sebuah permintaan sederhana yang penuh harap, "Bah, besok kita ke pantai, ya?"
Sambil tersenyum, Abahnya menjawab, "Insya Allah, besok kita ke Muara Reja, ya."
Keesokan harinya, saat fajar bahkan belum sepenuhnya merekah, dapur sudah menjadi panggung kesibukanku. Ada aroma harum sarapan dan bekal yang kusiapkan dengan cinta—sebuah persiapan kecil agar perjalanan kami nanti terasa lebih hangat. Setelah semua rapi dalam kemasan, satu per satu seisi rumah kubangunkan dengan lembut. Kami harus berangkat lebih awal, menjemput pagi sebelum matahari meninggi.
Di sepanjang jalan menuju Muara Reja, hatiku tak henti-hentinya berbisik syukur. Menatap wajah suami dan anak-anak dalam satu kendaraan, rasanya kedamaian memenuhi rongga dada. Betapa nikmat sehat dan kesempatan berkumpul adalah kemewahan yang sering kali lupa kita syukuri. Meski tujuan kami bukanlah tempat yang megah, kebersamaan inilah yang mengubah perjalanan biasa menjadi sesuatu yang luar biasa
Sesampainya di pantai, suamiku segera memesan tambahan hidangan pelengkap; mulai dari minuman segar hingga tempe mendoan hangat yang khas. Sementara itu, anak-anak tampak sangat bahagia. Senyum mereka merekah lebar saat berpose dengan latar ombak dan air laut yang tenang.
Melihat pemandangan itu, aku kembali merenung: bahagia itu memang sederhana. Kuncinya adalah hati yang tenang dan ikhlas menerima apa pun pemberian Allah. Bahagia tak selamanya harus mahal; cukup dengan kehadiran orang-orang tercinta di sisi kita.

Komentar
Posting Komentar